Integrasi Data Jadi Fondasi Utama Transformasi Smart Hospital
Konsultan IT PTPI menilai Smart Hospital bukan sekadar penggunaan aplikasi digital, tetapi kemampuan rumah sakit menghubungkan sistem, perangkat, data, keamanan siber, dan SDM dalam satu ekosistem pelayanan yang terintegrasi.

Jakarta — Transformasi rumah sakit menuju Smart Hospital tidak cukup hanya dengan penggunaan aplikasi digital atau penerapan Rekam Medis Elektronik. Lebih dari itu, rumah sakit perlu membangun sistem informasi yang saling terhubung agar pelayanan menjadi lebih cepat, aman, efisien, dan berpusat pada pasien.
Hal tersebut disampaikan oleh Moh. Miftakhur Rokhman, M.Kom., S.H.Eng., Konsultan IT PTPI, dalam wawancara menjelang pelaksanaan INAHEF 2026. Menurutnya, salah satu konsep penting dalam Smart Hospital adalah Sistem Fisik Maya atau SFM, yaitu konsep yang menghubungkan dunia fisik dengan dunia digital dalam proses pelayanan rumah sakit.
Miftakhur menjelaskan, SFM memungkinkan berbagai perangkat medis, sistem informasi, sensor, hingga aplikasi yang digunakan tenaga kesehatan untuk saling berkomunikasi dan bertukar data secara otomatis. Dengan konsep ini, proses pelayanan rumah sakit tidak lagi berjalan secara terpisah, melainkan menjadi satu ekosistem yang terintegrasi.
“SFM dapat dipahami sebagai konsep yang menghubungkan dunia fisik dengan dunia digital dalam pelayanan rumah sakit. Artinya, berbagai perangkat medis, sistem informasi, sensor, hingga aplikasi yang digunakan oleh tenaga kesehatan dapat saling berkomunikasi dan bertukar data secara otomatis,” jelas Miftakhur.
Ia mencontohkan, dalam sistem yang terintegrasi, hasil pemeriksaan laboratorium, radiologi, maupun monitor pasien dapat langsung masuk ke Rekam Medis Elektronik tanpa perlu diinput ulang oleh petugas. Dengan demikian, dokter dapat melihat kondisi pasien secara lebih lengkap dan real-time, sehingga pengambilan keputusan klinis dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat.
Menurut Miftakhur, pemahaman ini penting agar rumah sakit tidak keliru memaknai Smart Hospital. Smart Hospital bukan sekadar rumah sakit yang sudah menggunakan komputer, aplikasi, atau sistem digital tertentu. Rumah sakit baru dapat disebut bergerak menuju Smart Hospital apabila seluruh komponen pelayanannya saling terhubung dan mampu mendukung proses kerja yang lebih efisien.
“Smart Hospital bukan sekadar rumah sakit yang sudah menggunakan komputer atau aplikasi, tetapi rumah sakit yang seluruh komponen pelayanannya saling terhubung sehingga proses kerja menjadi lebih efisien, risiko kesalahan berkurang, dan pengalaman pasien menjadi lebih baik,” ujarnya.
Namun, integrasi data masih menjadi tantangan besar bagi banyak rumah sakit di Indonesia. Miftakhur menilai, salah satu penyebab utamanya adalah banyaknya sistem yang dibangun pada waktu berbeda dan berasal dari vendor yang berbeda pula. Rumah sakit umumnya memiliki SIMRS, Rekam Medis Elektronik, sistem laboratorium, radiologi, farmasi, keuangan, hingga aplikasi dari pemerintah atau BPJS. Masing-masing sistem tersebut belum tentu memiliki struktur data dan cara kerja yang sama.
Akibatnya, data pasien sering kali masih berjalan sendiri-sendiri. Data yang sudah tersedia di satu sistem harus kembali diinput ke sistem lain. Kondisi ini tidak hanya memakan waktu, tetapi juga meningkatkan risiko kesalahan, duplikasi data, serta keterlambatan informasi dalam proses pelayanan.
Miftakhur menekankan bahwa integrasi data bukan hanya persoalan teknologi. Lebih dari itu, integrasi data juga berkaitan dengan standar pencatatan, tata kelola, kolaborasi antarsistem, serta kesiapan organisasi rumah sakit dalam mengelola perubahan.
“Integrasi data bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan kolaborasi, standar, dan tata kelola yang baik,” tegasnya.
Apabila data dapat terintegrasi dengan baik, manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh pihak. Dokter memperoleh informasi pasien secara lebih lengkap, pasien tidak perlu berulang kali memberikan data yang sama, manajemen dapat memantau pelayanan secara real-time, dan rumah sakit dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang lebih akurat.
Selain integrasi data, aspek keamanan siber juga menjadi bagian penting dalam transformasi digital rumah sakit. Semakin banyak data yang terdigitalisasi, semakin besar pula risiko ancaman siber yang harus diantisipasi. Karena itu, rumah sakit perlu menerapkan pengamanan berlapis, mulai dari pengaturan hak akses pengguna, autentikasi berlapis, enkripsi data, pencadangan data secara berkala, hingga monitoring keamanan secara berkelanjutan.
Menurut Miftakhur, investasi pada keamanan siber tidak boleh dipandang hanya sebagai kebutuhan teknologi informasi. Dalam konteks rumah sakit, keamanan data merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan pasien dan mutu pelayanan.
“Investasi pada keamanan siber seharusnya dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan pasien, bukan sekadar kebutuhan teknologi,” jelasnya.
Di sisi lain, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi digital rumah sakit. Teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tenaga kesehatan, manajemen, dan petugas operasional belum siap menggunakannya. Karena itu, pelatihan rutin, peningkatan literasi digital, serta budaya kerja yang adaptif perlu dibangun secara bertahap.
Miftakhur menilai, Smart Hospital yang ideal bukanlah rumah sakit yang memiliki teknologi paling mahal atau paling canggih. Smart Hospital yang ideal adalah rumah sakit yang mampu menyeimbangkan teknologi, keamanan data, dan kompetensi SDM dalam satu sistem pelayanan yang terarah.
“Smart Hospital yang ideal bukanlah rumah sakit yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi rumah sakit yang mampu mengintegrasikan teknologi, keamanan, dan kompetensi SDM secara seimbang,” ujarnya.
Melalui INAHEF 2026, PTPI mendorong rumah sakit Indonesia untuk memahami transformasi digital secara lebih realistis dan menyeluruh. Forum ini diharapkan menjadi ruang bagi rumah sakit untuk mempelajari integrasi data, Rekam Medis Elektronik, keamanan siber, dashboard manajemen, serta kesiapan SDM sebagai fondasi utama menuju Smart Hospital.
Dengan pemahaman yang tepat, digitalisasi rumah sakit tidak hanya berhenti pada penggunaan aplikasi. Lebih jauh, teknologi dapat menjadi alat untuk meningkatkan mutu pelayanan, memperkuat keselamatan pasien, mendorong efisiensi operasional, dan menghadirkan layanan kesehatan yang lebih aman, cepat, dan berpusat pada pasien.
INAHEF 2026 menjadi momentum bagi direktur rumah sakit, kepala IT, manajemen rumah sakit, dan pengambil keputusan layanan kesehatan untuk memahami bagaimana integrasi data dapat menjadi fondasi utama dalam transformasi Smart Hospital di Indonesia.
